MGMP IPA Kabupaten Sampang Gelar Workshop Pembelajaran IPA Inovatif Berbasis Literasi Sains, Etnosains, STEAM, PjBL, dan ESD/SDGs
SAMPANG — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Sampang menyelenggarakan rangkaian workshop pengembangan kompetensi guru pada 15 dan 22 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik untuk mendorong pembelajaran IPA yang kontekstual, inovatif, kolaboratif, serta berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di lingkungan peserta didik.
Workshop pertama dilaksanakan pada 15 Oktober 2026 di UPTD SMPN 4 Sampang dengan tema “Menghidupkan Sains dari Lingkungan untuk Pembelajaran IPA Kontekstual, Inovatif, dan Berkelanjutan”. Kegiatan ini membahas literasi sains, etnosains, dan kajian interdisipliner. Selanjutnya, pada 22 Oktober 2026, kegiatan berlanjut dengan pembahasan STEAM, Project Based Learning (PjBL), dan Education for Sustainable Development (ESD) yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Kedua kegiatan tersebut menegaskan pentingnya pembelajaran IPA yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kritis, menyelidiki fenomena, mengembangkan kreativitas, dan menemukan solusi terhadap persoalan di sekitarnya.
Dukungan terhadap Peningkatan Kompetensi Guru
Pada kegiatan 15 Oktober 2026, Kepala UPTD SMPN 4 Sampang, Yety Maryanata, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai tuan rumah kegiatan MGMP IPA. Ia menekankan pentingnya membawa lingkungan sekitar ke dalam kelas agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
Sambutan juga disampaikan oleh perwakilan Program Studi S2 Pendidikan Sains Universitas Negeri Surabaya, Dr. M. Budiyanto, S.Pd., M.Pd., yang menjelaskan jalur pendidikan S2 Pendidikan Sains Unesa, meliputi reguler, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Ia menegaskan bahwa pendidikan lanjutan tidak semata-mata bertujuan memperoleh ijazah, tetapi juga meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan keilmuan guru.
Sementara itu, Feri Dharmanu Setia Budi, S.Pd., M.M., selaku Kasi Penyelenggaraan SMP, menyampaikan dukungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang terhadap upaya guru meningkatkan kompetensi dan kualitas pendidikan.
Pada kegiatan 22 Oktober 2026, Ketua MGMP IPA Kabupaten Sampang, Achsin Bawono Yudho, S.Si., menyampaikan terima kasih atas kehadiran para guru IPA. Ia berharap kegiatan berbagi keilmuan ini dapat memberikan manfaat nyata dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah masing-masing.
Menghidupkan Sains melalui Fenomena dan Kearifan Lokal
Pada workshop pertama, materi literasi sains disampaikan oleh Achsin Bawono, S.Si. Peserta diajak memahami bahwa nilai IPA yang tinggi belum tentu mencerminkan kemampuan literasi sains yang baik. Peserta didik perlu dilatih menggunakan pengetahuan sains untuk menjelaskan fenomena, menyelidiki persoalan secara ilmiah, serta menafsirkan data dan bukti untuk menarik kesimpulan.
Literasi sains juga mendorong peserta didik menggunakan bukti dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, guru perlu membangun pengalaman belajar yang melatih proses berpikir, bukan sekadar memberikan jawaban atau meminta peserta didik menghafal konsep.
Materi etnosains yang disampaikan oleh Erlin Kemalasari, S.Si. mengajak guru menghubungkan kearifan lokal dengan konsep ilmiah. Salah satu contohnya adalah fermentasi dalam pembuatan tempe yang dapat digunakan untuk mempelajari mikroorganisme dan kandungan gizi. Dalam konteks Madura, praktik budaya dan tradisi setempat juga berpotensi menjadi sumber belajar IPA yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Penerapan etnosains tidak harus dilakukan melalui kunjungan lapangan atau kegiatan berbiaya besar. Guru dapat memanfaatkan video, foto, maupun benda nyata untuk menghubungkan pengetahuan lokal dengan konsep sains.
Sementara itu, Yeni Andri W., S.T. menyampaikan materi kajian interdisipliner, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan dua atau lebih disiplin ilmu untuk memahami suatu fenomena secara menyeluruh. Pembelajaran dapat dirancang melalui tahapan mengamati fenomena, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, menganalisis bukti, menghubungkan konsep, dan menarik kesimpulan.
Ketiga materi tersebut saling melengkapi: literasi sains menguatkan kemampuan berpikir dan menggunakan bukti, etnosains menghadirkan konteks budaya lokal, sedangkan kajian interdisipliner membantu peserta didik memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
Mengembangkan Kreativitas melalui STEAM dan PjBL
Workshop lanjutan pada 22 Oktober 2026 menghadirkan materi STEAM yang disampaikan oleh Munhidhotul Ummah, S.Si. STEAM mengintegrasikan lima bidang, yaitu Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics.
Pendekatan ini mendorong kreativitas, inovasi, kolaborasi, pemanfaatan teknologi, dan penyelesaian masalah dunia nyata. Guru dapat mengembangkan proyek sederhana sesuai dengan kondisi sekolah, seperti membuat jembatan dari stik es krim, merancang alat penyaring air kotor, atau mengembangkan produk jamu tradisional yang sehat dan kreatif.
Dalam penerapannya, pembelajaran perlu dirancang agar mudah dilaksanakan, memanfaatkan sumber daya lokal, menggembirakan, membangun kesadaran, dan bermakna bagi peserta didik.
Selanjutnya, Dian Ekowati Jayasastri, S.Pd., menyampaikan materi Project Based Learning (PjBL). Model ini menempatkan peserta didik sebagai pelaku utama pembelajaran melalui penyelidikan mendalam terhadap permasalahan autentik hingga menghasilkan karya atau solusi nyata.
Tahapan PjBL mencakup penentuan pertanyaan mendasar, perencanaan proyek, penyusunan jadwal, pemantauan pelaksanaan, evaluasi hasil, serta refleksi dan umpan balik.
Salah satu contoh yang dibahas adalah pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pembuatan sabun. Selain itu, sampah daun kering di lingkungan sekolah dapat dijadikan proyek pengolahan kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah.
Melalui proyek, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga berlatih bekerja sama, melakukan penyelidikan, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap proses serta hasil karyanya.
ESD/SDGs: Mengarahkan Pembelajaran pada Keberlanjutan
Materi berikutnya disampaikan oleh Sayu Wiwit Annur, S.Pd., yang membahas ESD dan SDGs. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan mendorong peserta didik memahami persoalan lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi serta mengembangkan tindakan yang mendukung kehidupan yang lebih baik.
Pembelajaran dapat dimulai dari masalah nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Guru kemudian menghubungkan masalah tersebut dengan konsep IPA dan tujuan SDGs yang relevan, merancang aksi peserta didik, serta mengumpulkan bukti hasil kegiatan.
Salah satu contoh yang dibahas adalah pembelajaran sistem pencernaan melalui etnosains pengolahan bebek songkem Madura. Kearifan lokal tersebut dapat dijadikan konteks untuk menghubungkan budaya kuliner dengan konsep IPA mengenai makanan dan kesehatan.
Dengan demikian, pembelajaran IPA dapat mengintegrasikan pengetahuan ilmiah, budaya lokal, keterampilan pemecahan masalah, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.
Diskusi Interaktif: Masalah di Sekolah sebagai Sumber Belajar
Kedua kegiatan workshop juga diwarnai diskusi mengenai tantangan yang dihadapi guru dalam pembelajaran. Peserta membahas cara membimbing peserta didik merancang percobaan sendiri, menjembatani kebiasaan menghafal dengan kemampuan menyelidiki, serta menyusun pertanyaan yang mendorong peserta didik berpikir lebih mendalam.
Kearifan lokal Madura, seperti penempaan celurit dan permainan layang-layang berekor, turut menjadi contoh untuk menghubungkan fenomena budaya dengan konsep sains.
Dalam workshop lanjutan, peserta mengangkat persoalan air kotor atau tidak jernih di sekitar sekolah sebagai peluang proyek STEAM. Peserta didik dapat menyelidiki kondisi air, merancang alat penyaring sederhana, menguji prototipe, menganalisis hasil, dan memperbaiki rancangan berdasarkan data.
Persoalan sampah daun kering juga dibahas sebagai peluang penerapan PjBL melalui pembuatan kompos. Diskusi ini menegaskan bahwa lingkungan sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga sumber masalah autentik yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan kepedulian lingkungan.
Peserta turut membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan laporan proyek. Penggunaan AI perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan ketepatan informasi, kejelasan referensi, kesesuaian konsep, serta kemampuan peserta didik memahami dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
Kolaborasi untuk Pembelajaran IPA yang Lebih Bermakna
Rangkaian workshop MGMP IPA Kabupaten Sampang pada Oktober 2026 memperkuat pemahaman bahwa pembelajaran IPA dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan yang saling melengkapi. Literasi sains melatih peserta didik menggunakan pengetahuan dan bukti, etnosains menghubungkan sains dengan kearifan lokal, kajian interdisipliner mengintegrasikan berbagai bidang ilmu, STEAM mendorong kreativitas dan inovasi, PjBL mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah melalui proyek, sedangkan ESD/SDGs mengarahkan pembelajaran pada kepedulian dan keberlanjutan.
Penerapannya tidak harus selalu membutuhkan fasilitas canggih atau biaya besar. Guru dapat memulai dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar, memilih konsep yang relevan, merancang kegiatan secara terarah, serta membimbing peserta didik melalui proses penyelidikan dan refleksi.
Melalui kegiatan ini, MGMP IPA Kabupaten Sampang berharap guru semakin termotivasi untuk mengembangkan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Sains hadir di sekitar kita. Tugas guru adalah membantu peserta didik menemukan, memahami, dan menggunakan sains untuk menjawab persoalan kehidupan nyata.
Administrasi Kegiatan MGMP dapat diunduh pada tautan tautan berikut :

